Pages

Normal atau Caesar?

F.D

Lagi-lagi ini pilihan yang harus dipilih, dijalanin, dan membuat saya takut akan kedua pilihan tersebut.

Pengen banget normal, bukan karena berasa resmi jadi wanita total karena bisa lahir normal. Tapi lebih karena pengen si baby mengalami perjuangan dan untuk kesehatan si baby. Katanya, ketika baby lewatin vagina itu ada cairan untuk kekebalan tubuhnya. Tapi gak boong takut sakitnya, apalagi sebagian besar keluarga saya tidak percaya kalau saya bisa tahan akan sakitnya. Jadi lebih banyak yang rekomen C-Section (caesar/operasi) saja, lebih gak repot, bisa direncanakan. Tapi ada juga yang tidak rekomen caesar terutama nenek saya, alasannya lahir normal lebih cepat pulih.

Itu dia, saya tidak mau memilih C-Section, berhubung saya akan mengurus anak sendiri tanpa suster atau asisten rumah tangga, karena saya tidak mau dengan resiko pemulihan yang lama.

Seperti biasa, denger kanan kiri makin pusing. Mending tanya Tuhan aja deh langsung, kehendakNya apa untuk saya. Yang akhirnya saya mendapatkan imannya untuk menjalani kehamilan sampai selesai. Dan meminta kasih karunia untuk menahan mules klo memang normal. Karena saya pengen banget normal.

Rasa deg-deg an gimana nanti sakit bersalin gak boong ada, tapi saya mau fokus memikirkan apa yang Tuhan katakan aja, ada kasih karunia. Dan gak mau denger cerita-cerita yang bikin takut. Walaupun kenyataannya memang sakit.

Last of my trisemester

by F.D

Tiap minggu, saya hanya bisa berkomentar, semakin berasa gerakkan anak-ku.
Masih merasa tidak percaya ada mahkluk hidup dalam perut ku, gerakan yang tidak bisa saya kendalikan. Paling demen klo berasa sikut kaki nya. Semakin kenceng dan sering bikin kaget dan kadang juga sakit.

My baby suka banget disebelah kiri, ternyata karena kaki dan tangannya ada di kiri.
Praise the Lord, posisi bayi dan semuanya normal. Posisi kepala udah dibawah sejak trisemester ke dua. Rasa deg-deg an gimana nanti sakit bersalin gak boong ada, tapi saya mau fokus memikirkan apa yang Tuhan katakan aja, ada kasih karunia. Dan gak mau denger cerita-cerita yang bikin takut. Walaupun kenyataannya memang sakit.

Minggu ke 32 sempet mengalami kontraksi ditengah malam, yang bisa saya katakan sakit. Ternyata karena saya terlalu banyak aktivitas, dimana tidak dianjurkan untuk dilakukan sebelum waktunya nanti. Klo udah waktunya lahir, justru harus sering banyak aktivitas.


Minggu ke 32, my baby beratnya sesuai standard 1.8kg.. Saya udah naik 15kg..
Sudah mulai senam hamil, karena sangat niat untuk normal.heheh
Minggu ke 34, 2.1 kg. Saya sudah naik 16 - 17kg..heheh
mulai minggu ini, tidurnya udah mulai gak nyenyak dan enggap klo telentang.
Minggu ke 36 berat sudah 2,5kg
Sejak minggu ini saya sudah dirumah, rajin jalan pagi keliling dan malam dimal supaya baby cepet lahir. Sudah gak berani juga bawa mobil klo gak kepepet banget.
Minggu ke 37, minggu sudah cukup jika si baby mau keluar. Beratnya sudah 3kg
Minggu ke 38 dan seterusnya saya hanya bisa berharap-harap cemas menantikan mules dan keluarnya si baby.


My Second Trisemester

Kata kebanyakan orang, tri-semester kedua itu masa-masa yang enak, termasuk mual yang biasa terjadi di awal trisemester pertama akan sirna. Tapi nyatanya hal itu tidak terjadi pada saya, mual masih saja terjadi, namun tidak sesering dan tidak membuat saya terkapar seperti tri-semester awal. Masih perlu makan 2 jam sekali, makan berat pula.. Gak heran deh kalau badan saya meningkat jauh berat badannya.. hehehehe

Sampai sekitar minggu ke-19 saya masih suka morning sickness dan pusing, tapi setelah kita berdua liburan (babymoon)... Entah gimana cerita mual-mual itu langsung sirna.. Benar-benar saya tidak harus makan 2 jam sekali, pusing gak, mual juga gak.. Padahal pas pergi aja masih agak rewel.. I think, karena hati pikiran saya refresh, jadi badan ngikutin.. Hati yang gembira memang menentukan ya..

Tapi ternyata perjuangan saya belum selesai untuk kehamilan, setelah mual pusing sirna, timbul 'masalah' baru..

Balance Life

F.D


Bagaimana menyeimbangkan kehidupan antara kehidupan rohani dan non-rohani, adalah hal yang sering menjadi pertanyaan bagi banyak orang.

Pernah kah mengalami seperti kasus ini, "...bukannya gak mau pelayanan, tapi saya juga butuh waktu dengan keluarga. Atau saya butuh istirahat. Atau saya juga harus mencari uang... bla bla bla.."
Tapi tuduhan kalau kita tidak melakukan pelayanan atau aktif ke gereja, seperti tidak mendahulukan Tuhan. Apalagi buat yang sudah berkeluarga, bukan hal mudah memanage bukan cuma materi, tapi juga waktu. 

Bagaimana cara kita mengatur waktu untuk segi kehidupan kita?
Siapa yang menjadi prioritas dalam hidup kita? Tuhan. 
Berarti Tuhan no.1, suami no.2, anak no.3, pekerjaan no.4.. Apakah seperti itu?

Bagaimana kalau keluarga membutuhkan kita (anak sakit), tapi ada pelayanan yang harus kita lakukan. Siapakah yang kita dahulukan, pelayanan karena itu berhubungan dengan Tuhan? Sementara mengurus anak sakit kita tunda dulu?

Bagaimana jika kita (sesekali) harus ada jadwal masuk hari minggu karena hal penting, sedangkan hari minggu sudah ada jadwal tetap pelayanan. Manakah yang kita dahulukan, tanggung jawab kerja atau pelayanan?

First Trisemester

FD
Awal mengetahui klo saya hamil, saya jalani dengan amat sangat baik, bisa makan seperti biasa.
Rasanya gak sabar menantikan 2 minggu lagi untuk balik ke dokter, melihat si janin lewat monitor..
Pas kontrol 2 minggu kemudian, si baby udah ada denyut jantungnya, it means sudah 6minggu.. Berarti kemarin dokter salah perkiraan.. pas ke dokter pertama ternyata sudah 4minggu

Nah mulai minggu ini perjuangan saya dimulai. Welcome morning sickness.. Saya pikir saya akan hamil 'kebo', karena hampir semua keluarga besar saya hamilnya enak apalagi mama ku. Hamil 4 anak gak da yang rewel...
Ternyata saya memang berbeda dengan mama saya.. Mual, gak cuma dipagi hari.. tapi sepanjang hari bisa mual dan muntah, ga bisa masuk makanan dan cuma bisa tidur karena pusing berat. Sampai saya tidak bisa beraktivitas normal, sempat harus ijin tidak bisa kerja selama seminggu penuh, pekerjaan rumah terbengkalai, gak bisa pergi kemana-mana (termasuk gak ibadah), cuma tiduran. Sisanya pengen tidur terus seharian.. Kemana-mana gak bisa jauh dari minyak kayu putih dan gak bisa telat makan.

I'm pregnant!

FD

Awal taun 2016 gue udah mulai merasakan beberapa kali eneg, tapi gak sering, dan bukan pagi2 jadi saya pikir palingan karena telat makan atau apa .... dan belum telat datang bulan juga...

Tapi dua minggu berlalu, kok eneg-nya mulai sering ya, bagian tubuh saya juga seperti ciri-ciri mau datang bulanan, tapi tidak seperti biasanya.. Indra penciuman yang sensitif membuat kecurigaan kalau saya hamil semakin bertambah...jadinya saya langsung memutuskan untuk sesegera mungkin melakukan testpack.

Pekerjaan Rumah Tangga

by F.D

Nyapu
Ngepel
Cuci Baju
Gosok
Masak
Cuci Piring
Bersih-bersih
dll...

Inilah sederat tanggung jawab pekerjaan yang harus saya lakukan sejak menikah.
Dan memang gak boong deh, pekerjaan ini kelihatannya 'remeh', tapi gak akan selesai mau dikerjain setiap hari. Ini aja belum ditambah mengurus anak, gak heran banyak dari kita, khususnya di Indonesia membutuhkan tenaga bantuan untuk meringankan pekerjaan kita, yaitu asisten rumah tangga.

Tapi entah kenapa, sekarang ini disekitar saya banyak yang 'malu' untuk melakukan hal itu semua, menganggap pekerjaan seperti itu adalah pekerjaan 'rendahan' atau pekerjaan yang harusnya hanya dikerjakan para asisten rumah tangga saja, bukan kelas mereka untuk mengerjakannya. Malah ada yang anti untuk melakukan itu semua.

Tapi sebenarnya itu pekerjaan siapa ya? Apakah benar itu hanya pekerjaan para asisten / pembantu rumah tangga?

Pertanyaan berikutnya, pekerjaan apakah itu semua, pekerjaan rumah tangga kan?
Siapakah yang memiliki rumah tangga tersebut, si mba atau saya?